Belajar Menjadi Masyarakat yang Dewasa : Aku yang Bertransendensi

Semakin bertumbuh dewasa, masing-masing orang akan mengerti pentingnya belajar menjadi masyarakat yang dewasa. Karena sepanjang lebih dari beberapa tahun ini kita dihenyakkan ke dalam kenyataan pahit bahwa kita belum menunjukkan kedewasan dan kematangan untuk diri kita sendiri.

Ketika seorang bayi lahir ke dunia, dia akan tumbuh dam mulai menyadari bahwa benda-benda dan orang-orang berbeda, juga ketika dia sudah tumbuh dewasa, dan berhasil melepaskan ikatan primer dengan ibu atau dengan skala yang lebih besar yaitu berhasil melepaskan diri dengan lingkungan alam, ia akan mengembangkan kebutuhan akan identitas.

Maka dari itu belajar menjadi dewasa sangat penting, mereka akan sadar bahwa dirinya hadir dalam sebuah relitas  yang bukan dia sendiri yang memiliki, tapi juga dengan orang lain. Mereka akan bisa lampaui dunia rekaan mereka jika ingin belajar dengan sungguh-sungguh.

Belajar menjadi masyarakat dewasa berarti mengajukan sebuah metode, sebuah cara belajar. Salah satunya adalah consciousness raising (CR), kenapa menggunakan metode ini daripada yang lain? Karena melihat keadaan masyarakat yang sekarang menjadi semakin memprihatinkan. Dengan itu harus dipahami dua cara melihat manusia. Secara tradisional, di satu pihaknada gagasan filosofis yang secara onlotogis melihat manusia dengan kesadaran dan kapasitas kreatifnya merupakan mahluk yang berdiri sendiri lepas dari struktur eksistensi lainnya. Dengan demikian secara epistemologis manusia diasumsikan sebagai pengkonstruksi realitas di sekitarnya. Ini berarti bahwa realitas sosial dan semua bentuk pengetahuan ada di dalam kepala melalui pengalaman personal; realitas sosial adalah hasil bentukan.

Apakah yang menjadi dasar untuk CR? Dasarnya adalah pernyataan Carol Hannisch (1970), the is personal is political, yang ia ajukan dalam Notes of the Second Year. Slogan ini kemudian juga menjadi sebuah metode analisis yang dikembangkan oleh para feminis untuk memperoleh pemahaman politik berdasarkan analisis kritis terhadap pengalaman personal perempuan. Namun demikian CR dapat menjadi sebuah proses pendewasaan anggota masyarakat dengan memakai medium berupa dialog dalam kelompok-kelompok diskusi, baik yang bersifat publik maupun tertutup, dengan atau tidak dengan fasilitator. CR umumnya dilakukan sebagai bagian dari metode pendampingan terhadap korban, apapun definisi korban itu, apakah individu, atau kelompok.

Dalam proses pendewasaan ini berlangsung bukan semata-mata mengandalkan pendekatan individual kultural sehingga terjadi kekerdilan masyarakat individu yang di salahkan. Namun bagaimana masing-masing individu menyadari bahwa ia adalah hasil dialektika masyarakat yang ikut dia bentuk, sekaligus membentuk dirinya.


Komentar